Mbah Warto, Pagar Renta Peradaban

Mbah Warto, Pagar Renta Peradaban


Minggu, 27 Agustus 2023, Komunitas Resan mengadakan giat di Telaga Jurang Jero, Padukuhan Wintaos, Kalurahan Girimulyo, Kapanewon Panggang, Gunungkidul. Untuk kesekian kali aku mengikuti giat komunitas yang intens melakukan kegiatan konservasi alam sebagai wujud 'laku ngabekti' merawat dan menjaga lingkungan hidup.

Aku ingat waktu pertama kali ikut kegiatan komunitas yang sering dianggap aneh ini. Semua berawal dari kegelisahan pemikiran yang sering berseliweran di dalam kepalaku, dan aku bingung untuk mencari jawabannya. Sebagai generasi muda millenial, aku hidup pada jaman yang orang menyebutnya sebagai modern. Jaman dengan segala fasilitas kemudahan, praktis, serba mudah dan instant.

Berbagai trend dan gaya hidup pengaruh dari kemajuan tekhnologi, akhirnya menjadi kebiasaan hidup sehari-hari yang mengalir. Kita berlomba-lomba untuk mencari suatu hal yang baru dan serba mengikuti kemajuan zaman. Menjadi modern sudah seperti kontrak mati, karena jika tidak ikut arus jaman maka akan tergilas roda jaman yang berputar liar dan kejam.

Seiring bertambah usia dan pengetahuan, aku mulai bisa membaca dampak-dampak yang disebabkan oleh modernisasi. Kecepatan tekhnologi komunikasi, transportasi, industri dan segala kemudahan fasilitas membentuk gaya hidup dan budaya instant di masyarakat. Proses sebagai suatu hal yang harus dijalani untuk sebuah hasil seakan terabaikan dan menjadi tidak penting. Hal ini berimbas juga pada melunturnya nilai-nilai atau pengetahuan warisan leluhur.

Belum lagi dampak terhadap lingkungan, di media aku melihat berbagai bencana alam akibat eksploitasi berlebihan untuk mencukupi tuntutan segala kebutuhan manusia modern. Krisis iklim global, kebakaran, kekeringan, banjir, bencana pangan dan sebagainya membuatku begidik membayangkan bahwa Bumi memang sudah mendekati kiamat.

Aku teringat waktu aktif di organisasi Pramuka yang selalu mengajarkan untuk merawat alam. Atau saat ibadah Minggu di Gereja, Pak Pendeta menyampaikan tentang 'ibadah hijau', ajaran tentang pentingnya alam sebagai ruang hidup berkelanjutan. Pemikiran-pemikiranku ini akhirnya sampai dalam perenungan pertanyaan mengapa manusia termasuk diriku terlena dengan kemajuan yang semua serba mudah, kemudian melupakan nilai-nilai luhur yang sudah ada sejak dulu? Dan pertanyaan itu bertambah setelah aku bertemu dengan Mbah Warto Wiyono pada giat Komunitas Resan di Wintaos.

Mbah Warto Wiyono adalah juru kunci Telaga Jurang Jero, Padukuhan Wintaos, Panggang. Pada usia senjanya, Mbah Warto kemudian aku memanggilnya, tampak masih memiliki semangat fajar yang penuh energi menyongsong pagi. Mbah Warto ikut serta dalam giat menanam pohon konservasi di sekeliling telaga. Sebelum kami datang, Mbah Warto menunggu di pinggir telaga dengan sebatang lintingan tembakau yang terselip di sela-sela jarinya. Beliau kemudian bercerita banyak hal tentang Telaga Jurang Jero dan keterkaitannya dengan kehidupan warga masyarakat Wintaos.

Banyak hal yang disampaikan, tapi yang kutangkap kala itu entah mengapa bukan sekedar cerita bagaimana Mbah Warto menjadi juru kunci setelah beberapa saat ayahnya tiada. Aku menyimpulkan bahwa beliau adalah saksi hidup dari sebuah peradaban. Mbah Warto 'ndenangi' (mengalami) dan menyaksikan dua generasi yang memanfaatkan danau tersebut. Generasi yang menggunakan air telaga untuk kebutuhan sehari-hari dan generasi sekarang yang memilih kemudahan dengan tinggal memutar kran untuk mendapatkan air. Ia juga menyaksikan proses penurunan nyata penggunaan air telaga belakangan ini akibat modernisasi.

Kemajuan jaman telah mengakibatkan pergeseran pola hidup masyarakat yang mengakibatkan penurunan nyata pengunaan telaga. Tak hanya telaga, dari giat Komunitas Resan yang kuikuti di berbagai tempat di Gunungkidul, aku melihat sumber-sumber air yang sudah tidak dimanfaatkan lagi menjadi terbengkalai, tak terurus dan banyak yang hilang tinggal cerita.

Hal tersebut membuatku berfikir bagaimana kita yang ingin menjadi serba modern namun kadang juga menjadi manusia norak karena terlalu memaksakan diri. Tuntutan gaya hidup modern, akhirnya juga sering membuat kita lupa identitas dan asal usul.

Di usia Mbah Warto yang sekarang telaga mengalami penurunan, lalu jika di usiaku nanti sudah menginjak seusia Mbah Warto Wiyono, apakah generasi nanti masih bisa merasakan bagaimana rasanya mandi, memancing, atau sekedar membasuh muka di air telaga? Apakah ke depan, kita masih bisa menikmati sejuknya duduk dibawah rerimbunan pohon, sambil 'momong' anak cucu?

Mbah Warto adalah pagar renta peradaban. Tugasku dan generasi sekarang adalah terus belajar agar menjadi manusia modern yang tidak kehilangan jati diri dan identitas. Kita sekarang dengan segala potensi kemajuan harus mau menggantikan peran Mbah Warto, menyadari dan menjaga telaga sebagai sumber air sarana penunjang kehidupan. Sehingga menjadi penting upaya melestarikan ekosistem telaga agar generasi mendatang tetap dapat memperoleh manfaatnya atau minimalnya masih bisa melihat bagaimana bentuk telaga.


Salam resan - Salam lestari
(Kelvin Putra Kahimpong)



Lebih baru Lebih lama