Merangkai Resan Berkesan


Merangkai Resan Berkesan
oleh: Bosco


Pada hari Minggu, 24 September kemarin yang meruntut cerita pitutur para tokoh menjadi hari baik untuk sebuah aksi-buah pikiran kolektif di Dusun Mojo, Ngeposari, Semanu, Gunungkidul: Penanaman pohon “Resan” sebagai medium tanam di mangsa ketiga (musim kemarau di istilah orang kota) dilaksanakan oleh Tim KKN UNY, Karang Taruna Birema dan Komunitas Resan Gunungkidul. Aksi penanaman dimulai pada pukul 10 siang sehabis terlaksananya sarasehan tentang perawatan pohon resan lewat sistem tanam BAIS yang dikembangkan oleh Mas Onggo, anggota komunitas Resan Gunungkidul sekaligus tokoh penghubung antara kami-Tim KKN UNY-dengan komunitas bertujuan baik ini. Berikut kisahnya:

Katarsis


Memulai langkah kehidupan yang tiba-tiba berpindah dari kawasan rural bernafaskan gaya hidup sub-urban menuju daerah ramah, teduh serta pacunya yang tidak sekeras kota besar tempat kami menimba ilmu (baca: Universitas Negeri Yogyakarta), maka sampailah kami di Dusun Mojo, Kalurahan Ngeposari, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul. Sesuai arahan birokrasi baru-baru ini, kami bergegas mengatur arah gerak kami guna menuntaskan kewajiban mengabdi terhadap masyarakat lewat program kerja apa saja yang harapnya jadi berguna. Jadi baik. Waktu berselang, saya mulai tersadar akan entitas “hidup” lain bermarga alam di sekitar Mojo: Sumber Mata Air Kecemoet dan Embung (Telaga) Jlamprong. Ndilalah pas, teman-teman juga tidak hanya ingin mengupayakan manusia-sentris namun apabila bisa, ber-nas–kan environmentalist.

Memikirkan tinggalan sebagai kenang-kenangan, saya dan tim tethek, istilah non-resmi untuk diskusi santai namun sampai di malam Kliwon, bertempat di posko kecil namun bahagia yang kami tempati atas kemurahan sang empunya, Mbah RW Dwi Wasito. Mendobrak arus utama, kami meng-alternatif-isasi kesan tinggalan yang kerap kali outputnya berupa benda material saja entah plakat atau paling bagus plang jalan. Ada rasa untuk menitipkan tinggalan moril-barangkali ilmu, supaya ndak lekang oleh waktu. Melawan kodrat per-KKN-an duniawi, kami nekat ndakik (baca: jadi beda, pokoke tidak sama liyane, nyir!) sembari tetap stay true dengan adicita; melahirkan sebuah asa. Mlipir ke relung tempat memori beradu, aku memicingkan mata mencoba mengingat satu hal epik ditengah obrolan neka-neka waktu di Pakem, pas Lintas Kultura, bahwasanya ada satu komunitas pecinta resan berdikari yang giat berkarya-karsa di area Gunungkidul. Wangun, pikir kami nek bisa: Menanam resan. Dijelaskan singkat, resan bisa diartikan sebagai pohon, tanaman, dan/atau vegetasi yang eksistensinya mengakar kuat guna menjaga serta merawat sumber mata air. Mirip-mirip Swamp Thing yang didapuk menjaga The Green; Eksistensi ekosistem biologis sekaligus representasi dari alam pada semesta DC.

Seketika, Resan berkesan lahir menjadi tema, diusulkan oleh Bayu Aji, salah seorang anggota Tim KKN kami malam itu. Lewat mas Bayu juga kami mendapatkan kontak narahubung komunitas Resan, Mas Onggo, yang saat itu secara cekatan menjawab doa kami. Diikuti pertemuan di minggu itu juga, bertempat di ndalem-tempat tinggal Mas Onggo, kami melakukan diskusi dengan Pak Edi serta teman-teman perwakilan mengenai macam-macam sajam, namun utamanya soal kondisi bakal tempat tanam dan kondisi di lapangan. Selepas bertanya soal banyak tapi nggak banyak banget hal dengan Pak Edi dan kawan-kawan, kami pamit menuju peraduan dengan satu pikiran yang sama: Niat baik pasti dibantu semesta, minimal direstui sesulit apapun itu. Dan inilah secuil dari niat baik kami yang akan kami tinggalkan di Dusun Mojo.

Resan Berkesan


Detik-detik bergulir mesra membersamai persiapan kami menuju hari penanaman. Kami sepakat untuk bersama muda-mudi Mojo mempersiapkan apa saja yang perlu dan patut tersedia. Karena bibit-bibit sudah dipersiapkan dari komunitas Resan Gunungkidul, kami lantas mempersiapkan medium penanaman yang disebut Sistem Tanam BAIS; Sebuah sistem tanam yang memanfaatkan sabut kelapa, sistem ajir infus batang dan batu sebagai pengganti mulsa (dikutip dari web Resan.id). Seminggu sebelum hari terjanji, kami melakukan cross check dengan Pak Sukimin selaku anak mbarep (anak tertua alias juru kunci) Embung Jlamprong. Beliau mewejang soal tanggal dan hari baik saat penanaman serta pentingnya “izin” dan sowan ke Embung Jlamprong. Lewat beliau kami kemudian melakukan reresik bumi Sumber Kecemoet di hari Jumat, 22 September sebagai pembukaan akan prosesi penanaman di hari Minggunya.

Seusai fiksasi dan segala macamnya, maka hari Minggu datang dengan gagahnya menyongsong niat baik yang kami aminkan bersama. Perwakilan warga serta karang taruna juga turut hadir dan bersinergi dalam sarasehan yang dilaksanakan di joglo kecil, ada di timur embung. Masih termasuk daerah Semuluh Lor yang sudah kami tembung juga izinnya. Sarasehan berlangsung teduh, guyub lagi khidmat. Pemaparan oleh Pak Edi Padmo selaku perwakilan lagi inisiator Komunitas Resan Gunungkidul ditangkap oleh audiens sembari ngopi, ngeteh dan ngemil apa saja yang tersedia. Massa lalu bergerak menuju embung untuk menuntaskan aksi penanaman dikawal oleh Mas Onggo selaku founder dari sistem tanam BAIS. Dimulai dari bagian terluar sampai dataran “agak” tinggi embung yang bersinggungan langsung dengan Goa Jlamprong-total lima titik bumi telah kami keruk lalu uruk dengan isi bakal vegetasi resan berjeniskan: Aren, Kepuh, Jambu Air, dan Bunut. Semua sesuai dengan keinginan Kuncen setempat.

Seusai bebersih diri dan menata kembali ini dan itu, kami mengajak tim Komunitas Resan Gunungkidul untuk mampir ke posko kami guna beristirahat sejenak sebelum kembali ke tempat masing-masing. Disana kami berbincang ditemani Mbah RW Dwi Wasito serta durian hasil tebasan yang dengan penuh gelora saya dan Feri-anggota kelompok tertampan kami-ambil langsung dari kios tercinta milik mas Ibunda Mas Feri di Karangnongko, Klaten. Meski sempat tersengal melewati ganasnya sistem buka tutup Patuk dan Sambapitu, komoditi ekspor durian tertampung aman. Saat berbincang, kembali kami diingatkan bahwa kini merawat bibit-bibit tertanam menjadi tanggungjawab kami dan warga sekitar dalam sebuah aksi kontinuitas agar kelak, resan bisa menunaikan tugasnya sebagai penjaga; bisa ngrembaka alias rimbun dan harapannya: lestari abadi. Manusia, tambah Pak Edi, kerapkali lupa akan sekitarnya saking seringnya melahap dan mengonsumsi apapun-hingga tak sadar melahap “kemanusiaannya” sendiri. Deduksi ini membawa ketidaksadaran umat manusia dalam mengeksploitasi alam tanpa pernah merasa puas. Menjelang ashar, tim Resan Gunungkidul pamit undur diri. Eh, ayo foto sebentar biar yoik, ujarku pada teman-teman KKN. Cheese, foto di take, ciamik. Hati kami penuh. Doa baik diiringi niat kuat, diaminkan, dilambungkan, dijalani.

Salam Resan
Salam Lestari



1 Komentar

Lebih baru Lebih lama