Sorgum: Jejak Kultural serta Masa Depannya di Tanah Karst Jawa



Sorgum:
Jejak Kultural serta Masa Depannya di Tanah Karst Jawa
Oleh: Agus Pras


1. Jejak Kultural dan Jangkar Budaya di Tanah


        Jauh sebelum beras mendominasi makanan pokok rakyat nusantara, masyarakat kawasan perbukitan kapur/karst di Gunungkidul (DIY), Pegunungan Seribu-Kendeng (Jawa Tengah), hingga pesisir Tuban dan Lamongan (Jawa Timur) telah akrab dengan tanaman serealia tangguh bernama sorgum. Di Jawa, tanaman ini lebih dikenal dengan nama lokal: cantel, jali-jali, jejali atau gandum jawa. Kerabat dekatnya yang berbulu dan berbiji kecil dikenal sebagai jewawut atau jawut, juga merupakan tanaman yang sudah lama dikenal masyarakat pegunungan kapur, khususnya Gunung Kidul.

        Secara historis, cantel bukan sekadar tanaman pengisi lahan kosong, tetapi merupakan *jangkar budaya ekosistem sub-optimal*, karena tanaman ini dalam waktu lama ikut *menopang cara masyarakat bertahan hidup, mengelola lahan, membangun pola pangan, dan mempertahankan pengetahuan lokalnya*. Disebut *jangkar budaya* karena cantel berperan penting mempertahankan hubungan *manusia–pangan–ternak– lahan–pengetahuan lokal* ketika kondisi lingkungan berubah atau menjadi sulit.

        *Ekosistem sub-optimal* adalah istilah untuk ekosistem lingkungan yang kurang menguntungkan bagi pertanian intensif konvensional karena keterbatasan air, hujan musiman dengan curah terbatas, tanah yang relatif tipis, dan produktivitas lahan relatif rendah. Kondisi seperti ini memang mencirikan sebagian kawasan karst Gunungkidul. Istilah *sub-optimal* dalam konteks cantel dan lahan kapur, menggeser cara pandang kita. Dari sudut pandang pertanian modern yang berbasis sawah dan ber-input tinggi, kawasan karst memang terlihat ‘marginal’. Tetapi dari perspektif masyarakat yang telah beradaptasi selama bergenerasi-generasi, kawasan ini memang memiliki *model produksi yang berbeda*, dengan komoditas tanaman yang memang sesuai dengan kondisi lokal yang ada. Disini, cantel dapat dilihat sebagai bentuk *ko-adaptasi manusia–tanaman–lingkungan* yang khas.

        Karena ditanam berulang kali lintas generasi, cantel kemudian masuk ke dalam dan menjadi bagian dari budaya masyarakat. Dalam hal ini, yang diwariskan bukan hanya benih, tetapi juga pengetahuan mengenai kapan menanam, bagaimana mengolah lahan kering, bagaimana menyimpan hasil, bagaimana memanfaatkannya sebagai pangan atau pakan ketika terjadi paceklik, dan bagaimana mengombinasikannya dengan tanaman lain. Hilangnya cantel bukan hanya hilangnya satu komoditas, tetapi berarti hilangnya varietas lokal, pengetahuan atas komoditas tersebut, produk pangan lokal, strategi menghadapi paceklik, hingga hubungan budaya dan tradisi masyarakat dengan bentang alamnya.

        Masyarakat pegunungan kapur di masa lalu memandang cantel sebagai "padi sejati", karena kemampuannya yang unik untuk tumbuh di sela-sela batu kapur yang gersang. pangan lokal yang dapat tumbuh pada lahan kering, suhu tinggi, curah hujan rendah, bahkan lahan terdegradasi. Catatan mengenai pertanian lahan kering Gunungkidul juga menunjukkan cantel telah menjadi bagian dari kombinasi tanaman masyarakat bersama padi gogo, jagung, kedelai, dan ketela.

        Secara kultural, sorgum terkait erat dengan tradisi tumpang sari purba. Misalnya, malai jewawut yang menjuntai lebat di pinggiran ladang sering kali berfungsi ganda: sebagai penanda batas kepemilikan tanah sekaligus tameng "pengecoh" hama burung agar tidak merusak tanaman utama. Setelah dipanen, tangkai sorgum yang elastis tidak dibuang, melainkan dirajut menjadi *sapu canthal* - sejenis kerajinan tangan khas di Wonogiri yang sempat membantu menopang ekonomi domestik perdesaan.

        Disini kita bisa melihat bahwa sorgum bukan sekadar ‘alternative food crop’, tetapi dapat diposisikan sebagai biocultural keystone crop atau *tanaman kunci bio-kultural kawasan karst*. Istilah ini rasanya lebih tajam daripada istilah “jangkar budaya”, karena menjelaskan bahwa satu tanaman dapat sekaligus mempunyai fungsi *ekologis, ekonomi, pangan, pakan dan budaya*.

        Jika di masa lalu masyarakat hanya mengenal sorgum (c.q. cantel) varietas lokal murni seperti *plonco* (cantel berbiji putih, pulen), *hitam wareng* (yang tahan hama), dan *ketan merah* (yang rasanya legit, untuk camilan), saat ini lanskap tersebut diperkaya oleh varietas sorgum modern seperti *bioguma* dan *kawali*. Kehadiran varietas baru ini menjembatani kebutuhan pangan masa lalu dengan tuntutan produktivitas masa kini.


2. Karangkitri vs Tegalan: Resiliensi Pangan dan Komparasi Agronomis


Masyarakat agraris Jawa tradisional mengelola sorgum (c.q. cantel) 
melalui dua pendekatan tata ruang yang cerdas, yaitu *karangkitri* dan *tegalan*.

*Sistem Karangkitri (Pekarangan Rumah)*
        Sistem ini berfungsi sebagai benteng resiliensi pangan skala rumah tangga. Di sudut-sudut pekarangan, canthel ditanam berdampingan dengan tanaman obat (*empon-empon*), umbi-umbian (*telo kependem, telo kesampar, telo gumantung*), nangka, sukun atau kluwih, melinjo dan tayuman. Cantel yang ditanam di karangkitri tidak untuk dijual. Cantel, bersama sama dengan umbi-umbian dan sukun adalah lumbung hidup (micro food reserve) untuk makanan pokok alternatif. Tanaman-tanaman tersebut baru akan dipanen ketika musim paceklik tiba atau ketika stok beras di menipis.

*Sistem Tegalan (Lahan Kering)*
        Disini sorgum (c.q. cantel) diposisikan sebagai komoditas ekonomi untuk pangan dan pakan ternak skala besar. Petani memanfaatkan sifat unggul cantel berupa kemampuan ratooning (kepras). Setelah malai atas dipanen, batang cantel dipotong dan akan memunculkan tunas baru (ratun) yang bisa dipanen kembali tanpa perlu mengolah tanah yang keras untuk kedua kalinya. Pemanenan berulang dalam satu kali tana mini menjadikan cantel menjadi komoditas yang menarik untuk dibudidayakan, disamping sifat2 superior lainnya.

        Untuk melihat sejauh mana ketangguhan cantel di lahan karst, Tabel 2 dibawah menyajikan perbandingan antara cantel dengan dengan tanaman tegalan lain.

Tabel 1. Perbandingan antara Sorgum (Cantel) dengan Tanaman Tegalan lainnya.

Parameter

Sorgum (Cantel)

Jagung

Ketela Pohon

(Singkong)

Kacang Tanah

Daya Tahan terhadap Kekeringan

Sangat Tinggi (Memiliki fase dormansi saat kemarau).

Sedang (Rentan puso jika kekurangan air di fase pembungaan).

Tinggi (Tahan kering, namun menyerap banyak unsur hara tanah).

Sedang (Memerlukan kelembapan tanah yang cukup saat pengisian polong).

Adaptasi pada Tanah Karst

Sangat Baik (Akar serabut masif

mampu menembus rekahan batu).

Sedang

(Memerlukan lapisan topsoil yang agak tebal dan pupuk tinggi).

Baik (Bisa tumbuh di tanah marjinal, namun memicu erosi jika dipanen).

Baik (Membantu

fiksasi nitrogen, tapi butuh tanah gembur untuk polong).

Kandungan Nutrisi Utama

Kaya serat, bebas gluten, indeks glikemik rendah, protein tinggi.

Karbohidrat tinggi, tinggi vitamin A (jagung kuning), rendah protein.

Sumber karbohidrat murni, sangat rendah protein dan mikronutrien.

Tinggi protein nabati dan lemak sehat.

Pemanfaatan Sampingan

Batang dan daun kering (tebon) sangat disukai ternak ruminansia. Kandungan gula di batang tinggi.

Jerami jagung bisa untuk pakan, namun kadar ligninnya cukup tinggi.

Daun untuk sayur/pakan, kulit singkong untuk pakan (butuh fermentasi).

Rendemen daun (rendeng) sangat baik untuk pakan kelinci/sapi.


        Dari komparasi yang tersaji di Tabel 1 terlihat bahwa adalah sangat bijak dan tepat memilih sorgum sebagai tanaman untuk karangkitri maupun sebagai tanaman komoditas ekonomi di lahan karst. 


3. Kebangkitan Sorgum: Arus Baru Pangan Berkelanjutan 
 
        Saat ini, sorgum (c.q. cantel) nampaknya sedang mengalami kebangkitan baru. Naiknya sorgum sebagai komoditas ‘baru’ dipicu oleh kesadaran global akan krisis iklim dan kebutuhan atas pangan sehat fungsional. Sorgum naik kelas menjadi pangan premium karena sifatnya yang bebas gluten (gluten-free) dan ramah bagi penderita diabetes berkat indeks glikemiknya yang rendah. Kebangkitan varietas lokal ini tidak lepas dari dukungan ekosistem sorgum yang kuat di level tapak/akar rumput. Kelompok tani seperti *Poktan Sido Makmur* di Girisubo, *Poktan Jati Makmur* di Tepus (Gunungkidul), *Gapoktan Rahayu Widodo* di Wuryantoro (Wonogiri) aktif menjadi penangkar benih lokal. Perkembangan yang lebih menjanjikan, komunitas petani ini bermitra dengan para pemulia sorgum dari lembaga riset nasional (seperti BRIN) untuk memurnikan varietas lokal—seperti pendaftaran *Sorgum Baskoro* sebagai varietas lokal unggul asli Wonogiri. 
 
        Meskipun demikian, pengembangan sorgum di lapangan menghadapi dinamika kompetisi antara varietas lokal dan umum (nasional), yang sebenarnya menggambarkan dinamika antara mempertahankan keunikan lokal dengan produktivitas universal. Meskipun dinamika seperti ini bukan khas sorgum, tetapi jalan tengah yang bijak perlu dipilih dengan hati-hati tanpa mengorbankan salah satu dari kedua kelompok ini. Tabel 2 menyajikan secara ringkas karakteristik kedua varietas cantel. 


Tabel 2. Perbandingan antara Sorgum (c.q. Cantel) Varietas Lokal dan Varietas ‘Unggul’.

Karakteristik

Varietas Lokal

Varietas ‘Unggul’

Nama

Plonco (putih), Wareng, Ketan Merah

Bioguma, Kawali, Numbu

Sisi positif

   Rasa lebih pulen, 

   Lebih adaptif terhadap iklim mikro dan lahan karst, 

   Ikatan kultural yang kuat dengan masyarakat lokal.

   Genjah (cepat panen), 

   Bijinya mudah disosoh menjadi tepung putih bersih, 

   Khusus untuk jenis sweet sorghum (misal: Bioguma), batangnya menghasilkan nira manis untuk sirup.

   Biomassa melimpah untuk pakan ternak (c.q. sapi.)

 

Sisi Negatif

   Umur panen lebih lama

   Produktivitas bijinya kalah tinggi dibanding varietas ‘unggul’.

   Memerlukan pupuk yang lebih banyak dibanding varietas lokal.

   Belum sepenuhnya teruji di lahan karst.




4. Penutup: Menatap Masa Depan Lewat Cermin Masa Lalu

        Menghidupkan kembali tradisi menanam sorgum (c.q. cantel dan jewawut) di masa kini bukanlah langkah mundur tanpa arah. Sebaliknya, ini adalah strategi adaptasi modern yang sangat realistis di tengah ancaman pemanasan global 6dan =perubahan iklim yang makin sulit diprediksi.

        Sorgum merepresentasikan harmoni sempurna antara *penyangga pangan (antroposentris)* dan *penyangga ekologi (ekosentris)*. Di atas tanah karst yang miskin hara, cantel mengikat tanah tipis agar tidak tererosi, menghemat penggunaan air bawah tanah, dan menyediakan pasokan pakan hijau yang lebih sustainable bagi ternak di musim kemarau. Secara turun temurun, sorgum telah terbukti menjadi *jangkar budaya ekosistem sub-optimal lahan karst*. Posisinya sebagai salah satu *tanaman kunci bio-kultural kawasan karst* membuatnya wajib dipertahankan dan diperkuat.

        Dengan menempatkan kembali sorgum sebagai salah satu menu pokok di piring makan kita, kita tidak hanya sedang merawat ketahanan tubuh dengan pangan yang lebih sehat, tetapi juga sedang merawat bumi pertiwi lewat kearifan lokal yang telah teruji oleh zaman. -----

ap@16082026

Lebih baru Lebih lama