Cerita di Balik Belik Kepil: Konon Katanya bisa Mengobati Sawan


Suatu hari di Pulau Jawa, kalau ada mantenan atau orang meninggal seringkali anak-anak rentan kena sawan (sawan manten/sawan mayit). Meskipun tidak memungkiri orang dewasa bisa kena juga. Sebenarnya apa itu sawan?
Dari pandangan budaya tradisional orang Jawa, sawan sering diartikan sebagai gangguan spiritual berkaitan dengan hal-hal mistis.

Lalu, apakah hal-hal ini bisa dijelaskan dengan ilmu sains??
Menurut Andini, 2026 , istilah sawan telah digunakan jauh sebelum kata 'sains' itu ada. Orang Jawa secara tidak langsung sudah merekam satu pola berulang yaitu: orang yang pulang dari melayat/acara manten bisa jatuh sakit, atau demam dan rewel untuk anak-anak. Maka dari itu, istilah 'sawan' sebenarnya bukan sebuah penyakit melainkan terbentuk dari sistem pengetahuan masyarakat lokal untuk merepresentasikan nama penyakit yang memang nyata adanya.

Dari kacamata sains, sebenarnya ini berkaitan dengan imunologi.Ketika seseorang dalam keadaan duka, kortisol dalam tubuh melonjak sehingga dapat memicu perubahan fisik dan mental. Mulai dari peningkatan detak jantung dan tekanan darah, lonjakan energi sesaat, hingga kecemasan. Lonjakan kronis ini menyebabkan sulit tidur, penurunan sistem kekebalan tubuh, dan penambahan berat badan. Singkatnya, gejala ini sering kita kenal dengan stres.
Kemudian untuk anak-anak, khususnya bayi, gejala sawan seperti tiba-tiba kejang, menangis tanpa henti, atau tampak linglung setelah berada di tempat ramai. Kondisi ini dikenal sebagai kejang demam (febrile seizure) - kondisi neurologis yang menyerang anak usia 6 bulan hingga 5 tahun saat suhu tubuh melonjak. Kondisi ini pun disebabkan karena sistem saraf anak masih sangat sensitif terhadap perubahan suhu mendadak.

Jadi, secara medis sawan bisa didefinisikan sebagai respon neurologis yang kini bisa diukur dan diobati.

***
Minggu, 5 Juli 2026 - Pagi yang cerah saya terbangun dari mimpi indah yang enggan saya tinggalkan. Alarm berdering memaksa saya harus bangkit dari tempat tidur, menuju meja diujung kamar untuk mematikan alarm. Ternyata memang benar, ini trik yang manjur buat orang yang sangat cinta tidur ini. Meletakkan alarm jauh dari tempat tidur, mungkin bisa kalian tiru juga, hehehe.

Mata saya terbelalak ketika melihat jam menunjukkan pukul 08.30 WIB. Karena pukul 09.00 saya sudah berniat mengikuti agenda Komunitas Resan yaitu: Tilik dan Resik Belik Kepil di Kawasan Kehutanan, Kepek, Banyusoco, Playen, Gunungkidul. Untuk sampai di sana saya memerlukan waktu 15-20 menit. Saya bergegas mandi, siap-siap, langsung berangkat dengan Fitri, motor kesayangan yang telah menjadi saksi perjalanan saya di Gunungkidul :)

Titik kumpul di Angkringan Edhoom, milik salah satu kawan resan di Kepek, Banyusoco. Terlihat sudah beberapa orang berkumpul. Rupanya, dua diantaranya adalah adik tingkat saya di kampus. Akhirnya untuk kesekian kalinya ada anak antro lagi yang main ikut kegiatan Komunitas Resan :)
Selang beberapa menit, datang kawan-kawan relawan lain, salah satunya ada rombongan mobil yang tiba-tiba menepi. Ternyata mereka adalah rombongan guru dan murid dari SMP Cahaya Bangsa Utama Sleman yang sudah menghubungi sejak 1-2 minggu lalu untuk ikut berpartisipasi dalam agenda ini.

Bukan orang Indonesia tulen, kalau ga punya jam karet, akhirnya pukul 09.30 kami berbonceng-boncengan dengan motor untuk menuju ke lokasi Belik Kepil. Karena lokasinya di dalam kawasan hutan, aksesnya sangat sempit dan hanya berupa jalanan setapak. Jarak Belik Kepil dari titik kumpul juga lumayan.

Setelah naik turun bukit, tibalah kami di area Belik Kepil. Dari tempat parkir motor kami masih harus berjalan menembus semak-semak. Terakhir kali agenda di sini sekitar empat tahun yang lalu, maka tidak heran kalau aksesnya sudah rapat tertutup semak kembali. Di sini, bapak-bapak menjadi garda terdepan, dengan bersenjatakan golok, arit, gorok mereka membuka jalan yang penuh semak berduri. 

Setelah berjalan beberapa meter kami sampai di Belik Kepil, terlihat horor. Bagaimana tidak? di balik semak belukar, terlihat kain putih yang sudah koyak, melilit di batang pohon. Setelah semak-semak terbuka, baru terlihat keberadaan belik kecil yang terkubur oleh tanah. 

Beberapa orang masing sambil membersihkan area sumber dengan menyiangi ranting-ranting pohon, rumput, dan dedaunan kering diarea sumber. Sementara itu, salah seorang anggota Komunitas Resan, Mas Hanis, menempatkan diri di sisi kiri sumber, menyiapkan sesajen, dilanjut doa. Mungkin sekilas ini terlihat mistis, bahkan jika dalam ajaran islam orang bisa menilai ini hal musyrik? Itulah yang dilihat dari satu sudut pandang, seringkali menimbulkan kesalahpahaman. Namun, apa yang disampaikan Mas Hanis pada saat mengobrol santai, sangat bisa diterima.

"Air putih, gula, teh, dan kopi menggambarkan banyaknya rasa-rasa kehidupan. Ada kalanya kita menikmati masa manis, ada kalanya hambar, bahkan pahit. Bunga-bunga sebagai lambang doa, ketulusan hati, dan pengharapan. Bunga digunakan sebagai sarana komunikasi spiritual yang menghubungkan manusia dengan Sang Pencipta serta alam semesta. Dupa dan kemenyan yang seringkali dianggap kental dengan aura mistis, sebenarnya aromanya bisa membuat doa lebih khusyuk, dan ini kan di hutan ya,,, wewangian seperti ini akan bantu mengusir nyamuk agar kita tidak menjadi makanan nyamuk.." jelas Mas Hanis dengan rinci dan bahasa yang mudah dipahami oleh generasi saat ini.

"Teman-teman, sebelum kita mulai bersih-bersih, yuk kita duduk-duduk dulu, istirahat sebentar sambil ngobrol santai sedikit", ajak Pak Padmo, salah satu sesepuh di Komunitas Resan :)

Semua orang pun duduk memposisikan diri masing-masing senyamannya, tapi kami tetap duduk melingkar. Obrolan pun mengalir saling sharing saja. Tak lupa Pak Padmo memberi pengantar terlebih dahulu kepada rombongan guru dan murid dari Yogyakarta:

"Beginilah kegiatan Resan, di hutan, yaaa seperti ini kondisinya, bisa dilihat sendiri. Semoga teman-teman dari Jogja tidak kapok ya. Karena ini bagian pentingnya. Menghidupkan kembali sumber-sumber air yang terbengkalai. Karena bukan hanya kita sebagai manusia yang butuh air. Melainkan makhluk ciptaan Tuhan yang lain juga memerlukan. Dan apa yang akan kita lakukan hari ini, pasti akan memberi manfaat untuk kehidupan. Burung-burung, serangga, dan hewan-hewan lain yang singgah untuk minum. Semoga menjadi berkah untuk kita semua, aamiin"

"Pecinta alam yang sebenarnya ini Pak, bukan sekedar penikmat alam", cetus Pak Samsu, dosen UGK (Universitas Gunungkidul) yang memancing bercandaan sehingga suasana menjadi lebih cair. Tidak ada kata canggung meskipun tiap kegiatan ada saja orang-orang baru yang bergabung. Mungkin ini menjadi salah satu alasan saya pun betah mengikuti kegiatan resan dari masa kuliah dulu :) 

"Oiya temen-temen, ada satu fakta menarik tentang Belik Kepil ini. Ini dari informan warlok langsung yaa,,, ini Mas Alip (sambil menunjuk) adalah warga asli Ketangi, jadi mengetahui langsung seluk beluk Belik Kepil ini. Jadi, belik ini dulu sering diambil airnya untuk mengobati sawan", jelas Pak Padmo kepada semua orang.

"Saya juga diceritani simbah-simbah saya, katanya jaman dulu di seberang kali ini adalah jalan setapak yang jadi jalur utama penghubung Ketangi dengan Kepek, sebelum ada jalan aspal. Sehingga belik ini juga mudah diakses, dan sering jadi jujugan untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat. Tapi memang kata simbah saya, dulu kalau ada orang sakit atau anak rewel pasti disuruh mengambil air dari sini, sampai rumah didoakan dan diminumkan air dari belik ini. Percaya ga percaya kata simbah-simbah jaman dulu ini benar adanya", jelas Mas Alip dengan wajah sedikit serius tetapi santai.

Obrolan santai terus berlanjut. Otak saya pun mulai berkelana dengan membayangkan masa lampau ketika belik ini masih sering dikunjungi banyak orang dan menjadi jujugan untuk kebutuhan air. Syahdunya ketika suara aliran air menyatu dengan obrolan orang-orang di sekitarnya. Yah, itu dulu ketika jalan setapak masih jadi akses utama. Kondisinya berbeda 180 derajat dengan sekarang, sumber air kecil terkubur, tidak ada yang peduli. Bahkan dari cerita tutur yang beredar bahwa air ini bisa menyebuhkan 'penyakit' atau 'sawan' pun tidak mempan menyadarkan masyarakat luas, terutama warga Banyusoco. Dari 100% mungkin hanya 10-20% yang masih peduli dan berharap sumber kecil ini bisa lestari kembali. 

Apakah karena belik ini terletak di kawasan kehutanan? akses yang susah menambah kemungkinan warga untuk tidak peduli dan melestarikan? bukankah keberadaan sumber air menjadikan ekosistem hutan lebih stabil? lalu apakah harus ada batas-batas tentang siapa yang berkewajiban merawat dan melestarikan sumber air lokal? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang masih sering saya renungkan, ketika melihat sumber air terbengkalai. Padahal sekecil-kecilnya sumber air tetaplah memberikan banyak manfaat bagi ekosistem.

Kegiatan berlanjut dengan pembagian kerja: laki-laki bergantian menggali belik, sedangkan para perempuan dan anak-anak SMP estafet memindahkan tanah hasil galian, dan beberepa diantara mereka juga ada yang membersihkan area belik seperti menyapu dan mencabut rumput.
Suasana gotong royong antar-generasi yang hangat. Tidak ada sinyal membuat suasana menjadi lebih hangat karena semua fokus tertuju pada agenda kali ini. Smartphone hanya digunakan untuk dokumentasi kegiatan :)

Semoga perawatan rutin untuk sumber air lokal ini bisa berlanjut dan masyarakat lebih tersadar betapa pentingnya kelestarian belik ini. Meskipun cerita "air belik bisa mengobati penyakit" tidak lagi dipercaya oleh semua orang, tetapi bagi saya, cerita lama itu benar adanya karena air dari belik ini adalah air suci yang belum ternodai, bahkan oleh ucapan-ucapan kotor yang terlontar dari mulut manusia. Hal ini karena letaknya berada di tengah hutan. Maka tak heran, jika air ini dipercaya bisa menyembuhkan penyakit. Konon katanya, air bisa menyerap energi di sekitar. Jika air yang belum ternodai dikasih doa-doa baik, maka besar kemungkinan air akan mengandung energi positif yang bahkan dipercaya bisa menyebuhkan penyakit.

Salam Resan,
Salam Lestari!
 

Lebih baru Lebih lama