Membaca Semesta Lewat Rasa: Filosofi Utuh Tradisi Ganti Singep dan Sholawat Jawa di Padukuhan Wintaos
Penulis: Suryanto, Padepokan Tompak Watu
Resan.id -- Di balik perbukitan karst Kapanewon Panggang, Gunungkidul, tepatnya di Padukuhan Wintaos, Kalurahan Girimulyo, harmoni kehidupan masih dijaga dengan anggun. Setiap Bulan Sura atau Muharram, warga secara turun-temurun menggelar ritus sakral Prosesi Ganti Singep atau Krepyak pada Pohon Munggur yang berada di wilayah mereka
Rangkaian ini bukan sekadar rutinitas adat. Ia adalah siklus spiritualitas utuh yang mempertemukan tiga tali hubungan, Hablumminallah (kepada Tuhan), Hablumminannas (kepada sesama), dan Hablumminalam (kepada alam semesta)
Sura: Ruang Refleksi dan Pembaruan
Pemilihan bulan Sura punya landasan filosofis kuat dalam kosmologi Jawa-Islam. Sasi Sura sebagai ruang refleksi bagi orang Jawa. Sura waktunya 'mulat sarira', introspeksi diri dan tirakat menahan hawa nafsu. Dalam Islam, Muharram adalah bulan suci penuh berkah sejarah.
Pembersihan diri dan lingkungan
Mengganti kain penutup pohon di awal tahun baru melambangkan semangat lembaran baru yang lebih bersih. Seperti manusia memperbarui hidup, alam di sekitar juga ikut "dibersihkan" secara simbolis. Ini doa tolak bala agar Padukuhan Wintaos sepanjang tahun dijauhkan dari marabahaya,
Dimulai dari Sholawat Jawa: Menyatukan Iman dan Budaya
Ritual tidak dimulai dengan palu atau perbaikan fisik, tapi dengan gema Sholawat Jawa di bawah rindangnya pohon.
Penyucian niat (nglenggana).
Melantunkan sholawat adalah bentuk 'sowan' atau :kulonuwun' spiritual kepada Sang Pencipta. Warga sadar manusia tak punya daya tanpa rida Allah SWT. Sholawat jadi 'wasilah: agar seluruh acara membawa berkah.
Manunggalnya iman dan akar budaya
Cengkok Jawa yang syahdu mencerminkan watak orang Jawa yang lembut dan 'andhap asor' di hadapan Tuhan. Nabi Muhammad SAW diposisikan sebagai panutan moral tertinggi yang menuntun manusia memahami Sangkan Paraning Dumadi (dari mana asal dan ke mana kembali)
Hamemayu Hayuning Bawana: Teologi Lingkungan
Pusat tradisi ini adalah penggantian singep (kain langse) atau krepyak pada Pohon Munggur atau Trembesi raksasa. Di sini tersimpan kearifan ekologis luar biasa. Pohon sebagai penjaga air dan produsen oksigen. Gunungkidul berbasis batu kapur, jadi air adalah anugerah termahal. Secara ilmiah, Pohon Munggur mampu mengikat air tanah dan menjaga kelembaban. Leluhur Wintaos menangkap ini lewat bahasa simbolik: pohon diuri-uri, dirawat khusus.
Simbol perlindungan ekologis
Mengganti singep (nglangse) adalah komitmen warga untuk menghormati dan melindungi. Ini wujud nyata praktek Hamemayu Hayuning Bawana. Kewajiban manusia memperindah dan menjaga bumi. Memagari pohon berarti ada hukum adat tak tertulis yang melarang siapa pun merusak sumber kehidupan itu.
Ritual kemudian ditutup dengan prosesi Genduri sebagai simbol merekatkan sesama, bentuk kebersamaan dan kerukunan sosial warga. Setelah spiritual lewat sholawat dan alam lewat pohon ditunaikan, ritual ditutup dimensi sosial Genduri Sura. Berikut sedikit ulasan semiotika sederhana dalam uba rampe kenduri
Nasi liwet & nasi gurih
Nasi simbol kemakmuran dan berkah sandang pangan dari bumi subur. Rasa gurih melambangkan kemantapan hati dan tekad warga hidup selaras.
Ayam ingkung
Ayam utuh bersimpuh melambangkan 'manungkul' kepasrahan total manusia di hadapan Sang Pencipta. Di awal Sura, ingkung mengingatkan manusia menanggalkan ego dan sifat sombong
Filosofi bersila bersama
Dalam kenduri tak ada sekat. Sesepuh, tokoh masyarakat, petani, pemuda duduk di tikar yang sama, makan hidangan sama. Ini puncak rukun dan gotong royong. Wujud zakat sosial yang menguatkan tali persaudaraan menjelang tahun baru.
Rangkaian ulpacara Ganti Singep di bulan Sura oleh warga Wintaos, Girimulyo, adalah potret kosmologi Jawa-Islam yang paripurna.
Lewat Sholawat Jawa, hubungan ke atas dengan Tuhan dan Rasul dibersihkan. Lewat Ganti Singep Munggur, hubungan ke samping dengan alam semesta dirawat agar tak rusak. Lewat Genduri Nasi Gurih Ingkung, hubungan ke sesama manusia direkatkan dalam harmoni damai.
Tradisi ini titip pesan abadi untuk kita yang modern: menjaga bumi tak melulu soal teori ekologi formal. Bumi bisa dirawat dengan rasa hormat, ketukan rebana sholawat, dan sepiring nasi gurih penuh berkah di bulan yang suci.