Mengapa Pohon Perlu Dihormati, Bukan Sekadar Dimanfaatkan?

Mengapa Pohon Perlu Dihormati, Bukan Sekadar Dimanfaatkan?

Oleh : Iqtafi Rizky Qurrataputra
Mahasiswa Fakultas Hukum UGM



Resan.id-- Di sebuah sudut Gunungkidul yang gersang, di mana batuan karst putih menyembul dari balik tanah, sering kali kita menemukan sebuah pemandangan yang ganjil bagi mata modern, sebuah pohon beringin atau kepuh raksasa dengan selembar kain putih melilit batangnya, sementara di kakinya kepulan asap dupa tipis menguap ke angkasa. Bagi sebagian orang yang melintas dengan tergesa, pemandangan itu mungkin memicu kerutan di dahi, sebuah sisa-sisa "mistisisme" yang dianggap tak relevan, atau bahkan tuduhan miring tentang praktik penyembahan berhala.

Namun, jika kita bersedia duduk sejenak dan mendengarkan bisikan angin di antara dedaunan Ficus tersebut, kita akan menemukan sebuah cerita yang jauh lebih dalam dari sekadar klenik. Ini adalah cerita tentang pertahanan hidup, tentang memori kolektif yang hilang, dan tentang sebuah komunitas yang memilih untuk menyebut diri mereka sebagai "penjaga".

Sebagai mahasiswa Fakultas Hukum UGM yang mengikuti kegiatan Sharing & Diskusi bertema Kearifan Lokal, Hukum Adat sebagai Modal Sosial dalam Pendidikan Masyarakat Berbasis Komunitas dan Ecological Resilience bersama Komunitas Resan Gunungkidul, kami awalnya datang dengan rasa ingin tahu yang sederhana. Namun seiring percakapan berlangsung, kami menyadari bahwa yang dibicarakan bukan sekadar pohon, sumber air, atau ritual budaya, melainkan cara pandang masyarakat terhadap kehidupan itu sendiri.

Kehilangan "Ibu Kehidupan" di Balik Keran Air

Dahulu, identitas 'wong Gunungkidul' tidak bisa dipisahkan dari pohon dan air. Tengoklah nama-nama dusun di sana, banyak yang merujuk pada nama pohon besar yang tumbuh di dekat mata air setempat. Relasi ini bersifat eksistensial, di mana ada pohon resan, di situ ada air, dan di situ pula peradaban bermula.
Namun, zaman telah berubah. Cara pandang modern yang antroposentris perlahan menggeser alam dari subjek yang dihormati menjadi objek yang semata-mata dimanfaatkan. Masuknya layanan air komersial seperti PDAM, meski memudahkan secara teknis, tanpa disadari telah memutus ikatan emosional masyarakat dengan sumber air alaminya. Air kini dianggap sebagai komoditas "instan" yang tinggal dibayar. Ketika keterikatan itu hilang, mata air (sendang) atau telaga yang dulunya sakral mulai terabaikan, terbengkalai, dan akhirnya mati tertimbun tanah.

Pohon-pohon raksasa pun kini dipandang dengan kacamata ekonomi jangka pendek. Fungsi ekologisnya sebagai "tandon" air bawah tanah sering kali kalah sakti dibanding nilai rupiah dari kayu yang bisa ditebang seketika. Di sinilah krisis dimulai, krisis lingkungan yang berakar dari krisis identitas. Dalam diskusi yang kami ikuti, isu ini berulang kali muncul. Kerusakan lingkungan ternyata tidak selalu berawal dari kurangnya aturan atau teknologi, melainkan dari renggangnya hubungan manusia dengan ruang hidupnya sendiri. Ketika sumber air tidak lagi dipandang sebagai bagian dari kehidupan bersama, maka kepedulian terhadapnya perlahan ikut menghilang.

Resan: Bukan Sekadar Menanam, Tapi Merawat Nyawa

Komunitas Resan Gunungkidul lahir dari kegelisahan kolektif terhadap matinya sumber-sumber air secara masif. Nama "Resan" sendiri berakar dari kata Bahasa Jawa 'reksa' yang berarti penjaga atau 'ngreksa' yang artinya merawat. Bagi para relawannya, menjaga pohon bukan sekadar hobi lingkungan, melainkan "laku spiritual" demi kelangsungan hidup bersama.

Dari berbagai cerita yang kami dengar selama kegiatan berlangsung, kami menangkap bahwa kata "menjaga" di sini memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar menjaga pohon. Menjaga berarti merawat hubungan, hubungan manusia dengan alam, manusia dengan sesamanya, dan manusia dengan sejarah tempat ia hidup.
Ada satu prinsip yang mereka pegang teguh, "Menanam itu gampang, yang sulit adalah menjaga sampai besar". Untuk itu, mereka mengembangkan inovasi seperti "Sistem Tanam Bais", sebuah metode menanam di lahan kering dengan bantuan sabut kelapa (sepet) dan bambu sebagai sistem infus air alami.

Komunitas Resan  bergerak tanpa struktur formal, tanpa ketua, dan dengan tegas menolak pendanaan eksternal yang bersifat transaksional atau mendikte agar gerakan ini tetap mandiri dan berbasis pada kesadaran personal.

Memahami "Nglangse": Perangkat Lunak Budaya

Kembali ke kain putih atau langse yang melilit pohon. Dalam kacamata Komunitas Resan, ritual ini adalah sebuah instrumen konservasi yang cerdas. Kain putih tersebut adalah simbol penghormatan, sebuah cara "memberi pakaian" kepada entitas yang telah berjasa menyediakan oksigen dan air bagi manusia.
Sebelum mengikuti diskusi ini, sebagian dari kami mungkin juga akan memandang praktik semacam itu sebagai sesuatu yang asing. Namun setelah mendengar langsung penjelasan para pegiat Resan, kami justru melihat bahwa langse bekerja sebagai bahasa budaya yang membantu masyarakat membangun rasa hormat terhadap alam. Di titik ini, ritual tidak lagi tampak sebagai praktik mistis, melainkan sebagai sarana pendidikan ekologis yang lahir dari pengalaman panjang masyarakat setempat.

Secara sosiologis, ritual ini berfungsi sebagai "pagar sosial". Ketika sebuah pohon diberi langse, muncul rasa segan dan kewajiban moral komunal untuk tidak merusaknya. Ini adalah bentuk perlindungan aset publik yang jauh lebih efektif dibandingkan papan larangan pemerintah. Melalui mitos dan ritual, status alam diubah dari sekadar objek ekonomi menjadi entitas suci yang memiliki hak untuk dihormati.

Menghadapi Stigma: Menghormati Bukan Menyembah

"Penyembah pohon.", tuduhan ini sering menghampiri para penggerak Resan. Namun, Edi Padmo, salah satu inisiator komunitas ini, memberikan penjelasan yang sangat humanis, "Ini soal pendekatan kebudayaan. Masalah alam bermula dari hilangnya budaya menghormati alam itu sendiri".
Bagi mereka, ada perbedaan mendasar antara nyembah (menyembah Tuhan) dan ngurmati (menghormati). Menghormati pohon adalah bentuk pengakuan bahwa alam adalah "Ibu Kehidupan". Sebagai makhluk beragama, mereka meyakini bahwa menanam pohon adalah bentuk "sedekah jariyah" yang paling inklusif karena manfaatnya dirasakan oleh seluruh ekosistem. Dupa dan kemenyan yang dibakar pun dipahami sebagai sarana penghormatan terhadap sejarah situs dan upaya untuk mencapai kekhusyukan saat berdoa kepada Tuhan di tengah alam.

Bagi kami yang datang dari latar belakang pendidikan hukum, penjelasan tersebut menarik karena menunjukkan bahwa satu praktik yang sama dapat dimaknai secara berbeda oleh kelompok masyarakat yang berbeda. Di sinilah kami melihat bagaimana nilai, budaya, dan keyakinan saling bernegosiasi dalam kehidupan sehari-hari.
Pohon beringin yang besar dipandang sebagai "guru keikhlasan", ia memberi oksigen dan air tanpa pernah menagih imbalan. Menghormatinya adalah cara manusia untuk tetap rendah hati dan menyadari asal-usulnya (Aja Lali Mulanira).

Belajar dari Kesalahan Modernitas

Kita sering menganggap diri kita lebih pintar dengan teknologi modern, namun lapangan sering berkata lain. Salah satu contoh nyata adalah proyek "semenisasi" telaga oleh pemerintah. Niatnya mungkin baik secara administratif, namun pengerukan dan penyemenan dinding telaga justru merusak lapisan lumpur halus (lendhut lemi) yang berfungsi sebagai membran alami penahan air. Akibatnya, telaga yang direvitalisasi dengan biaya mahal justru sering kali kering kerontang karena airnya meresap habis ke dalam batuan kapur.

Sebaliknya, hukum adat yang "hidup" di masyarakat justru memiliki aturan-aturan teknis yang lebih tepat sasaran, seperti larangan menggunakan sabun di sumber air untuk menjaga kemurniannya. Inilah yang disebut sebagai living law, hukum yang tidak tertulis di atas kertas, tapi beroperasi secara nyata di lapangan karena menyatu dengan budaya masyarakat.

Sebuah Ajakan: Menjadi Resan di Tempat Masing-masing

Pendidikan sejati bukanlah soal selembar ijazah, melainkan tentang kepedulian terhadap ruang hidup. Komunitas Resan telah membuktikan bahwa kearifan lokal bisa menjadi modal sosial yang kuat untuk membangun ketahanan ekologis (ecological resilience).
Pohon resan di Gunungkidul adalah pengingat bagi kita semua bahwa alam memiliki "hak hidup" yang harus kita hargai. Menghormati pohon bukan berarti kita berbelok dari ajaran Tuhan, melainkan menjalankan mandat sebagai khalifah di bumi untuk merawat semesta.

Pada akhirnya, pertanyaan "mengapa pohon perlu dihormati?" akan terjawab ketika kita menyadari bahwa setiap teguk air yang kita minum dan setiap napas yang kita hirup hari ini adalah "subsidi" gratis dari alam. Menghormati alam adalah cara paling jujur untuk menghormati diri kita sendiri dan masa depan anak cucu kita.

Bagi kami, kegiatan ini juga menjadi pengingat bahwa belajar hukum tidak selalu harus dimulai dari ruang kelas atau lembar peraturan. Kadang-kadang pelajaran penting justru muncul dari percakapan di bawah pohon, dari cerita tentang mata air yang mengering, dan dari upaya masyarakat menjaga ruang hidupnya dengan cara yang mungkin tidak selalu dipahami oleh semua orang.
Jadilah "penjaga" di manapun kita  berada. Karena merawat bumi adalah tugas kemanusiaan yang harus dilakukan secara bersama-sama, sebuah tugas jamak yang kita sebut sebagai Resan.

Lebih baru Lebih lama