*RESAN – komunitas yang merekatkan*
Oleh: Ir. Agus Prasetya
Di minggu pertama awal 2026, ulang tahun ketujuh Resan hadir tanpa panggung, tanpa baliho, tanpa susunan acara yang kaku. Ia datang seperti hujan tanpa awan mendung dan petir—diam-diam jatuh begitu saja mengguyur bumi, membasahi apa saja yang ada situ.
Resan memang seperti itu. Ia bukan organisasi berstruktur, melainkan sebuah gerak bersama. Tidak ada ketua, tidak ada sekretaris, tidak ada bendahara—yang ada hanya penggerak dan partisipan. Keanggotaannya -jika boleh disebut demikian- adalah cair. Cukup menyebut: saya juga orang Resan, maka kita semua langsung paham. Resan seperti angin yang tak pernah mengklaim ruang, tetapi selalu terasa ketika dibutuhkan. Seperti air yang mengalir dan merembes, Resan menemukan jalannya sendiri, menghijaukan tanah-tanah kering, menghidupkan mata air, menumbuhkan harapan.
Selama tujuh tahun, Resan merawat hutan, air, dan mata air dengan kesabaran khas kearifan lokal. Di musim hujan mereka menanam, di musim kemarau mereka menyiapkan bibit. Seperti tanaman endemik, Resan tumbuh dari tanah Gunung Kidul—lokal, kuat, adaptif dan vital bagi keseimbangan ekosistem.
Perayaan kali ini dihadiri banyak wajah dan dengan banyak cerita. Ada Tompak Watu dengan Omah Ramah, Tandur Bungah dan Sekolah Sudamala-nya, ada Akar Napas dari pesisir yang peduli pada mangrove, ada akademisi dari Universitas Gunung Kidul, ada mas Jonathan dari CRCS UGM, anak-anak SMA, anak-anak kecil yang diajak orangtuanya, ibu-ibu Resan menyiapkan ‘dapur’, dan banyak lagi. Dan di antara mereka, ada kami dari NTMT (Nandur Tuk Memetri Tuk). Semuanya hadir berbagi kesan dan cerita. Mas Edi Padmo—figure sentral penggerak Resan—tidak berdiri di depan sebagai ketua, melainkan berada di antara kita, menghidupkan perayaan ini.
Kelompok kecil kami, Nandur Tuk Memetri Tuk (NTMT) hampir selalu dijawil di setiap kegiatan Resan. Bagi kami, ini adalah penanda kepercayaan. Dan seperti biasa, kami menempatkan diri sebagai penyokong, khususnya penyumbang bibit. Dari Kebun Bibit NTMT di Kalasan, kami membibitkan pohon-pohon konservasi— ada yang dari biji, cangkok, setek, hingga relokasi—untuk kami lepaskan lagi ke habitat barunya di alam, menjadi bagian dari ekosistem yang menghidupkan. Salah satu jalur pelepasan ya melalui kegiatan menanam Resan ini.
Ulang tahun ketujuh Resan bukan sekadar penanda usia. Ia menjadi momen langka untuk bertemu, ngobrol-ngobrol, dan berbagi tawa. Disini, Resan menunjukkan dirinya sebagai lem perekat kami semua, komunitas-komunitas yang bergerak dalam sunyi —menghubungkan hutan dan manusia, air dan kehidupan. Karena kami percaya bahwa merawat bumi adalah kerja senyap yang kadang layak dirayakan.
ap@13012026
Ir. Agus Prasetya, M. Eng. Sc., Ph.D, adalah dosen di Departemen Teknik Kimia UGM. Pegiat lingkungan di Nandur Tuk Memetri Tuk (NTMT) dan Sekolah Ekoliterasi