Yang Hilang Bukan Hanya Air
Oleh : Davina Felhysa Wibowo
Mahasiswa Fakultas Hukum UGM
Resan id-- Di bawah terik matahari yang menyengat wilayah karst Gunungkidul, permukaan tanah sering kali terlihat gersang dan membara. Batuan gamping yang menyembul di antara pepohonan kering seolah menegaskan citra wilayah ini sebagai daerah yang akrab dengan kekeringan, kemiskinan, hingga bayang-bayang kelam tradisi pulung gantung.
Namun, bagi mereka yang bersedia melihat lebih dalam ke pori-pori bumi, rahasia besar tersimpan di sana. Gunungkidul sesungguhnya adalah tandon air raksasa dengan sungai-sungai bawah tanah yang mengalir deras ratusan meter di bawah kaki kita. Ironisnya, kekeringan tetap menjadi tamu tahunan yang tak kunjung pergi. Ketika keran-keran PDAM mulai terbatuk-batuk atau harga air tangki melonjak, kita tersadar bahwa ada sesuatu yang retak dalam hubungan kita dengan alam.
Melalui gerakannya, Komunitas Resan mencoba berbisik kepada kita semua, bahwa dalam krisis air ini, sesungguhnya yang hilang bukan hanya cairan bening di dalam sumur atau telaga, melainkan identitas, sejarah, dan martabat kita sebagai manusia.
Sebagai mahasiswa Fakultas Hukum UGM yang berkesempatan mengikuti kegiatan sharing dan diskusi bersama Komunitas Resan Gunungkidul, kami awalnya mengira pembahasan akan banyak berkutat pada isu lingkungan dan konservasi. Namun semakin jauh diskusi berlangsung, kami menyadari bahwa yang sedang dibicarakan bukan semata soal air. Air hanyalah pintu masuk untuk memahami hubungan yang lebih besar antara manusia, ruang hidup, sejarah, dan ingatan kolektif masyarakat Gunungkidul.
Memori yang Berakar di Nama Desa
Pernahkah kita bertanya mengapa desa kita bernama beringin, kepuh, atau gayam? Bagi 'wong Gunungkidul' , air dan sejarah adalah dua sisi dari satu mata uang. Sebagaimana peradaban besar dunia bermula di tepian sungai Nil atau Indus, dusun-dusun di Gunungkidul lahir dari keberadaan sumber air. Penamaan tempat (toponim) yang merujuk pada jenis pohon besar di dekat mata air bukan sekadar kebetulan. Ia adalah memori kolektif tentang para leluhur yang mencari perlindungan di bawah tajuk pohon raksasa yang menjaga ketersediaan air.
Pohon-pohon raksasa ini, jenis Ficus seperti beringin, bulu, kepuh, dan preh, secara geologis bertindak sebagai "tandon" alami. Akar-akar mereka yang kuat meresap ke dalam batuan kapur, menahan air hujan di permukaan agar tidak langsung lenyap ke dalam bumi. Masyarakat tradisional memahami pohon-pohon ini sebagai 'R
reksaning alam' (sang Penjaga Alam). Namun, seiring waktu, pohon-pohon ini mulai ditebang karena dianggap tidak memiliki nilai ekonomi langsung, dan seiring tumbangnya pohon-pohon itu, hilang jugalah memori kita tentang asal-usul tempat tinggal kita sendiri.
Bagian ini menjadi salah satu hal yang paling membekas bagi kami. Selama ini nama dusun, nama pohon, atau keberadaan sebuah sendang sering dianggap sebagai sesuatu yang biasa saja. Padahal di balik nama-nama tersebut tersimpan jejak sejarah bagaimana masyarakat membangun kehidupannya di tengah bentang alam karst yang tidak mudah ditaklukkan.
Modernitas dan Matinya "Rasa" pada Alam
Modernisasi sering kali datang dengan janji kemudahan yang membius. Masuknya layanan air komersial seperti PDAM mengubah posisi sumber air tradisional dari kebutuhan primer menjadi sekunder. Air tidak lagi dianggap sebagai anugerah suci yang harus dijaga keberlangsungannya, melainkan komoditas "instan" yang tinggal dibayar. Ketika pola pikir masyarakat berubah menjadi transaksional, keterikatan emosional terhadap telaga dan mata air alami pun menguap.
Banyak telaga yang dulunya merupakan pusat kehidupan komunal kini terbengkalai. Celakanya, upaya "penyelamatan" oleh pemerintah sering kali justru mempercepat kematian sumber air tersebut. Proyek "semenisasi" telaga, misalnya, dilakukan dengan mengeruk lapisan lendhut lemi (lumpur halus) yang secara alami berfungsi sebagai membran penahan air. Dinding batu alami diganti semen permanen yang menutup pori-pori batuan, membuat air justru lenyap ke dalam rongga karst.
Secara administratif, proyek tersebut mungkin terlihat sukses di atas kertas, namun secara ekologis, itu adalah "cacat mental" manusia modern yang merasa lebih tahu dari alam.
Bahkan tradisi gotong royong atau gugur gunung pun mulai luntur. Ketika pemerintah mengganti kerja bakti dengan upah atau insentif finansial (HOK), tanggung jawab moral komunal berubah menjadi hubungan transaksional. Jika uang habis, kepedulian terhadap lingkungan pun berhenti. Inilah krisis identitas yang sesungguhnya, kita menjadi orang asing di tanah kelahiran kita sendiri.
Resan: Sebuah Laku Spiritual untuk Pulang
Komunitas Resan tidak lahir dari struktur organisasi yang kaku dan legal formal. Sebaliknya, mereka bergerak tanpa pengurus, ketua, atau sekretaris. Persoalan pendanaan gerakan yang sering menjadi momok gerakan sosial selalu disikapi dengan mengedepankan kemandirian. Gerakan ini lahir dari kegelisahan personal yang bertaut menjadi satu energi kolektif untuk "merawat kembali".
Bagi relawan Resan, menanam pohon bukan sekadar kegiatan lingkungan, melainkan sebuah laku spiritual. Mereka tidak datang kepada masyarakat dengan posisi menggurui atau membawa program fisik, melainkan datang untuk belajar sejarah dan kondisi sumber air dari cerita para sesepuh. Mereka menempatkan diri sebagai murid dari alam dan sejarah lokal.
Dalam sesi diskusi, kami melihat bahwa pendekatan ini membuat Resan berbeda dari banyak gerakan lingkungan yang sering datang dengan membawa solusi dari luar. Resan justru memulai langkahnya dengan mendengar. Mereka mendengar cerita para sesepuh, membaca kembali sejarah sumber air, lalu membangun gerakan berdasarkan pengalaman masyarakat setempat. Dari sini kami belajar bahwa merawat lingkungan tidak selalu dimulai dari proyek besar, tetapi bisa berawal dari kesediaan untuk memahami tempat yang kita tinggali.
Aksi mereka pun sering kali "melawan arus" zaman. Misalnya, melalui sistem tanam BAIS (Batu, Ajir, Infus, Sepet), mereka mampu menanam pohon di tengah puncak musim kemarau yang gersang. Dengan menggunakan sabut kelapa (sepet) dan bambu sebagai sistem infus air alami, mereka memberikan peluang bagi bibit-bibit pohon penjaga air untuk bertahan hidup meski tanpa siraman rutin manusia. Ini adalah bukti bahwa perlawanan terhadap kerusakan alam bisa dimulai dari hal-hal kecil dan sederhana. Selama ada konsistensi dan cinta di dalamnya.
Menghormati, Bukan Menyembah
Langkah Resan di lapangan tak jarang berhadapan dengan stigma sosial. Penggunaan kain putih (mori) untuk membungkus pohon besar dalam ritual nglangse, serta penggunaan dupa dan sesaji, sering kali memicu tuduhan miring sebagai praktik "penyembah pohon" atau syirik. Namun, bagi komunitas ini, ritual tersebut adalah "perangkat lunak" budaya yang sangat penting untuk melindungi ekosistem.
Tradisi nglangse adalah simbol penghormatan kepada pohon yang telah berjasa menyediakan oksigen dan menjaga air. Ia berfungsi sebagai "pagar sosial" yang menciptakan rasa segan bagi siapa pun untuk merusak pohon tersebut. Secara sosiologis, ini adalah cara mengubah status pohon dari sekadar objek ekonomi (kayu) menjadi entitas suci yang memiliki hak untuk dihormati.
Edi Padmo, inisiator Resan, sering menjelaskan bahwa menghormati alam adalah bagian dari iman. "Ibu kandung wajib kita hormati, sementara alam ini adalah ibu kehidupan, berarti logikanya juga harus dihormati," tuturnya. Sebagai muslim, ia melihat menanam pohon sebagai "sedekah jariyah" yang paling inklusif, manfaat oksigen dan airnya dirasakan oleh seluruh makhluk ciptaan Tuhan tanpa terkecuali. Dupa dan wewangian hanyalah cara untuk meningkatkan konsentrasi saat berdoa kepada Sang Pencipta dan bentuk penghormatan kepada sejarah sebuah situs budaya.
Penjelasan ini menarik bagi kami karena menunjukkan bahwa praktik budaya sering kali tidak bisa dipahami hanya dari apa yang tampak di permukaan. Apa yang bagi sebagian orang terlihat sebagai ritual semata, ternyata menyimpan fungsi sosial dan ekologis yang sangat kuat. Dari titik inilah kami mulai memahami mengapa perdebatan tentang lingkungan sering kali tidak bisa dilepaskan dari persoalan budaya dan cara masyarakat memaknai alam di sekitarnya.
Menanam Kembali Masa Depan
Perjuangan Komunitas Resan adalah perjalanan panjang yang mungkin tak akan selesai seumur hidup. Namun, keberhasilan mereka menghidupkan kembali belasan mata air yang sudah puluhan tahun mati di berbagai pelosok Gunungkidul, seperti Sampar Angkling atau Sendang Bandung, adalah bukti nyata bahwa kearifan lokal bukan sekadar dongeng masa lalu. Ketika air mulai keluar dari tanah yang semula kering rata, masyarakat yang tadinya skeptis mulai memberikan dukungan nyata, menyediakan makanan, dan ikut bergotong royong. Transformasi ini menunjukkan bahwa living law atau hukum yang hidup di tengah masyarakat jauh lebih kuat daripada aturan formal di atas kertas jika ia dibarengi dengan integritas dan kemanfaatan yang nyata.
Bagi kami, kegiatan ini juga menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan tidak selalu berbentuk statistik tentang kekeringan atau angka kerusakan hutan. Kadang-kadang persoalan itu hadir dalam bentuk yang lebih sunyi, hilangnya cerita tentang sebuah sendang, hilangnya pohon yang dahulu menjadi penanda kampung, atau hilangnya hubungan emosional masyarakat dengan ruang hidupnya sendiri. Dan mungkin, sebagaimana yang berulang kali muncul dalam diskusi bersama Resan, upaya menyelamatkan lingkungan pada akhirnya juga merupakan upaya menyelamatkan ingatan kolektif yang perlahan memudar.
Pada akhirnya, "Yang Hilang Bukan Hanya Air" adalah sebuah peringatan. Jika kita terus abai terhadap pohon-pohon penjaga dan sumber air alami, kita tidak hanya akan kehausan secara fisik, tetapi juga akan kehilangan jiwa dan identitas sebagai 'wong Gunungkidul'. Melalui bibit-bibit yang ditanam di bibir sendang dan di celah batuan karst, Komunitas Resan mengajak kita semua untuk "pulang". Pulang kepada kesadaran bahwa kita adalah bagian dari alam, bukan penguasanya. Sebagaimana pepatah kuno mengingatkan kita, Aja Lali Mulanira, jangan lupakan asal-usulmu.
Mari menanam, karena menanam adalah cara kita untuk tetap menjadi manusia di tengah zaman yang semakin gersang.