Spiritual Menuju Kelestarian

Spiritual Menuju Kelestarian



(Menyelami Keharmonisan Komunitas Resan Gunungkidul dengan Alam)

Penulis : Mudji Ridwan

Opini(resan.id)-- Dunia hari ini tidak sekadar sedang sakit; ia sedang berada di ambang kehancuran yang disebut para ilmuwan sebagai krisis ekologi global. Krisis ini bukan fenomena tunggal, melainkan jalinan kompleks antara perubahan iklim, kepunahan massal biodiversitas, dan degradasi moral manusia.

Dalam sebuah Focus Group Discussion di Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Louise Kotze, seorang Research Professor dari North-West University, Afrika Selatan, memberikan peringatan keras. Beliau menegaskan bahwa planet kita telah memasuki era dengan dominasi pandangan antroposentris, sebuah masa di mana jejak destruktif manusia menjadi kekuatan geologis utama yang mengubah wajah bumi.
Krisis global ini bukan sekadar statistik perubahan iklim dan kenaikan permukaan air laut. Ia adalah jeritan dari bumi yang telah kehilangan keseimbangan sosiokosmisnya. Ketidakadilan masif terhadap alam telah menjadi norma dalam sistem ekonomi modern yang ekstraktif.

Namun, di tengah kepungan isu global yang sering kali membuat kita merasa tak berdaya, sebuah gerakan akar rumput di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, menawarkan sebuah oase pemikiran. Mereka tidak menawarkan teknologi pembersih karbon yang mahal, melainkan sebuah jalan pulang: kembali ke akar spiritualitas sebagai fondasi utama kesadaran terhadap pelestarian alam.



Untuk memahami signifikansi gerakan ini, kita harus menyelami keunikan bentang alam Gunungkidul. Selama puluhan tahun, wilayah ini dicitrakan sebagai kawasan yang kerap dilanda oleh kekeringan. Tanah yang gersang, perbukitan kapur yang meranggas, dan warga yang harus mengantre air bersih menjadi pemandangan ikonik setiap musim kemarau ekstrem. Namun, benarkah Gunungkidul miskin air?
Secara geologis, kawasan karst memiliki karakteristik yang sering disalahpahami. Karst bukanlah gurun, ia adalah sistem hidrologi yang unik. Wilayah ini secara alami berfungsi sebagai tandon raksasa. Air hujan tidak mengalir di permukaan, melainkan meresap melalui pori-pori batuan gamping, membentuk sungai-sungai bawah tanah yang megah dan tersembunyi. Keunikan ini seharusnya menjadikan Gunungkidul sebagai wilayah yang kaya akan cadangan air, asalkan ekosistem permukaannya terjaga.

Keharmonisan alam Gunungkidul pada masa lalu dibuktikan oleh keberadaan telaga sebagai penampung air hujan utama. Data sejarah mencatat bahwa dahulu terdapat sekitar 359 telaga yang tersebar di wilayah ini, menyediakan napas kehidupan bagi manusia, ternak, dan satwa liar. Namun, realitas hari ini sungguh menyedihkan. Saat ini hanya tersisa sekitar 20 hingga 30 telaga yang masih berfungsi dengan baik. Hilangnya ratusan telaga ini bukan sekadar proses alamiah geologis, melainkan bukti nyata dari rusaknya "perjanjian" antara manusia dan alam. Ketika tutupan pohon hilang dan sedimentasi menutup pori-pori telaga, air pun pergi meninggalkan manusia yang melupakannya.


Menghadapi kehampaan ekologis ini, para ahli mulai menyadari bahwa regulasi dan teknologi saja tidak cukup. Masalahnya terletak pada aspek yang lebih fundamental, yaitu cara kita memandang dunia. Rachel Wheeler (2022) menjelaskan bahwa paradigma antroposentris telah menyebabkan manusia menempatkan diri sebagai "raja" sekaligus "pemilik" alam semesta. Dalam pandangan ini, alam hanyalah objek, instrumen, dan komoditas yang nilainya diukur dari seberapa besar ia bisa menghasilkan keuntungan finansial.

Pemisahan tajam antara pengetahuan modern yang teknokratis dengan nilai-nilai spiritualitas telah memutus ikatan moral manusia. Alam tidak lagi dipandang sebagai entitas suci yang memiliki jiwa (anima), melainkan sekadar materi mati. Al Gore (2007) menegaskan bahwa krisis ekologis pada dasarnya adalah manifestasi dari krisis spiritualitas. Kekosongan batin manusia modern memicu eksploitasi tanpa rasa bersalah.

Di tengah kegelapan paradigma inilah, Komunitas Resan Gunungkidul muncul sebagai sebuah gerakan respons kebudayaan. Komunitas Resan hadir bukan sebagai organisasi yang kaku dengan hierarki birokrasi, melainkan sebagai komunitas konservasi yang organik. Menurut Ir. Agus Prasetya dari UGM, komunitas semacam ini muncul secara alami, didorong oleh kesamaan minat dan ikatan emosional yang kuat. Mereka bergerak tanpa instruksi formal dari otoritas mana pun, melainkan digerakkan oleh rasa gelisah yang sama ketika melihat mata air satu per satu mati.



Nama “Resan” sendiri memiliki akar semantik yang dalam. Dalam kosmologi lokal Jawa, Resan merujuk pada pohon-pohon besar (biasanya jenis Ficus) yang tumbuh di sekitar sumber mata air. Masyarakat tradisional memahami Resan sebagai Reksaning Alam—Sang Penjaga Alam. Penetapan nama ini menegaskan identitas komunitas sebagai pelindung garda depan sumber daya air. Mereka bukan sekadar relawan penanam pohon; mereka adalah penjaga nyawa bagi tanah kelahiran mereka.
Napas spiritual gerakan ini bukan sekadar hiasan retoris. Bagi para anggotanya, menanam adalah laku spiritual.

Mas Edi Padmo, salah satu penggerak utama, menceritakan perjalanan batinnya yang transformatif. Dalam sebuah perenungan mendalam untuk mencari makna "ikhlas" di tengah dunia yang penuh pamrih, ia justru menemukannya pada sosok pohon.
Pohon dipahami sebagai representasi konsep keikhlasan yang paling murni. Ia tumbuh, memberikan keteduhan, menghasilkan oksigen untuk semua makhluk tanpa membedakan siapa mereka. Menyerap air ke dalam tanah tanpa pernah meminta imbalan atau memamerkan jasanya. Pemahaman tentang pohon sebagai "guru keikhlasan" inilah yang menggerakkan Mas Padmo dan masyarakat lainnya untuk mulai menanam secara masif sejak tahun 2018. Mereka tidak menanam untuk statistik atau laporan proyek; mereka menanam sebagai bagian dari perjalanan (lelaku) serta ibadah terhadap Tuhan melalui perantara makhluk-Nya.

Kesadaran ini kemudian mengkristal menjadi pandangan kosmologi relasional. Hubungan manusia dan alam dilihat sebagai ekspresi dari tatanan kosmik yang sakral. Konsep ini dalam spiritualitas Jawa-Islam disebut sebagai kesatuan antara Jagad Alit (mikrokosmos/diri manusia) dan Jagad Gedhe (makrokosmos/alam semesta). Mbah Guntur mengungkapkan bahwa alam dan manusia berada dalam satu sistem yang saling terhubung secara metafisik.

Komunitas Resan percaya bahwa pohon besar bukan sekadar onggokan selulosa dan kayu, melainkan portal energi atau entitas yang memiliki "jiwa" penjaga. Keyakinan ini melahirkan etika lingkungan yang sangat kuat: bahwa alam, layaknya manusia, memiliki hak untuk dihormati. Penebangan pohon Resan tidak lagi dilihat sebagai tindakan teknis ekonomi semata, melainkan sebagai pelanggaran moral yang dapat mendatangkan bala atau petaka bagi masyarakat setempat.

Di sini, mitos tidak berfungsi sebagai takhayul, melainkan sebagai "perangkat lunak" budaya untuk memproteksi ekosistem.Komunitas Resan berhasil melakukan sinkretisme kreatif antara kearifan lokal dengan nilai-nilai religius formal. Mereka memaknai kegiatan menanam sebagai wujud nyata dari ibadah.



Mas Siddiq dan Mas Gayut menekankan bahwa menanam pohon adalah bentuk "sedekah jariyah" yang paling inklusif. Jika seseorang tidak mampu bersedekah dengan uang, maka menanam pohon adalah cara untuk memberi manfaat bagi keberlanjutan ekologis.
Korelasi antara muatan sedekah dan menanam pohon dalam pandangan komunitas ini dapat dirinci sebagai berikut:

Rasa Syukur: Menanam adalah ucapan terima kasih kepada Sang Pencipta atas oksigen dan air yang selama ini diberikan secara gratis.

Kemanfaatan: Sebagaimana sedekah memberi makan bagi yang lapar, pohon menyediakan "makanan" bagi ekosistem (oksigen, air, habitat satwa).

Ketenangan Batin: Anggota komunitas merasakan ketenteraman spiritual saat berinteraksi dengan tanah dan bibit.
Solusi Kehidupan: Pohon adalah "sedekah" bagi masa depan untuk mengatasi krisis iklim, kekeringan, dan bencana alam.

Lebih jauh lagi, gerakan ini merupakan implementasi dari konsep Khalifatullah fil Ardh (wakil Tuhan di bumi). Sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Anbiya’ ayat 107, manusia diciptakan untuk menjadi rahmat bagi semesta (Rahmatan lil 'Alamin). Menjadi khalifah bukan berarti memiliki hak absolut untuk mengeksploitasi, melainkan memikul mandat untuk mengelola dan menjaga keseimbangan bumi agar tidak hancur oleh keserakahan.

Salah satu praktik unik yang dipertahankan dan dimaknai ulang oleh Komunitas Resan adalah tradisi nglangse. Secara tradisional, nglangse adalah kegiatan melilitkan kain putih (kain mori) pada pohon-pohon yang dianggap sakral. Di jaman modern, praktik ini sering kali disalahpahami sebagai bentuk kemusyrikan oleh sebagian kalangan. Namun, Komunitas Resan memberikan interpretasi baru yang lebih ekologis.
Kain putih tersebut adalah simbol penghormatan dan tanda bahwa pohon tersebut adalah "aset publik" yang dilindungi oleh hukum adat. Di akhir prosesi nglangse, Komunitas Resan mewajibkan aksi menanam pohon-pohon konservasi baru di sekitarnya. Dengan demikian, ritual berfungsi sebagai "pagar sosial" yang sangat efektif. Melalui ritual ini, setiap anggota masyarakat termasuk generasi muda diajak untuk menjadi penerus tanggung jawab moral mereka sebagai penjaga alam.



Dampak dari pendekatan ekologi spiritual ini tidak hanya terasa di awan-awan filsafat, tetapi terbukti secara empiris di lapangan. Komunitas Resan telah melakukan aksi nyata yang fantastis: menanam kurang lebih 10.000 pohon konservasi dengan kemampuan hidrologis tinggi (seperti Beringin, Ipik, Bulu, dan Bodhi) di titik-titik strategis.
Hingga saat ini, gerakan organik ini telah berhasil menghidupkan kembali dan memulihkan 14 titik sumber mata air pada tahun 2023 yang sebelumnya sempat mati atau mengecil debitnya. Secara ilmiah, hal ini dapat dijelaskan: pohon-pohon jenis Ficus memiliki sistem perakaran yang mampu mengisi kekosongan ruang pori di batuan kapur, yang menahan air di permukaan tanah. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa ketika spiritualitas dijadikan bahan bakar gerakan, hasilnya adalah kelestarian yang terukur dan berkelanjutan.

Namun, jalan sunyi ini bukan tanpa hambatan. Tantangan utama datang dari arus modernisasi dan pembangunan yang sering kali bersifat "buta ekologi". Fenomena "despiritualisasi" alam menjadi ancaman nyata, di mana pohon-pohon purba kini sering dilihat hanya sebagai tegakan kayu yang bisa dikonversi menjadi rupiah. Tekanan ekonomi dan gempuran pariwisata massal di Gunungkidul sering kali mengabaikan keberadaan kawasan Resan yang dianggap sebagai penghambat "kemajuan".

Selain itu, melemahnya pengakuan hukum formal terhadap living law atau hukum adat menjadikannya rentan digusur oleh proyek infrastruktur. Degradasi pengetahuan lokal di kalangan generasi muda yang terpapar arus globalisasi juga menjadi kekhawatiran. Jika narasi spiritual ini hilang, maka Resan hanya akan dipandang sebagai "hutan tua biasa" atau pohon dengan kayu ekonomis, dan perlahan akan punah ditelan ekskavator pembangunan.

Komunitas Resan Gunungkidul adalah mercusuar harapan bagi kita semua. Mereka membuktikan bahwa konservasi sejati tidak lahir dari paksaan regulasi semata, melainkan dari kedalaman iman dan spiritual. Mereka telah memberikan peta jalan bagi dunia: bahwa solusi atas krisis planet ini terletak pada pemulihan hubungan etis-spiritual manusia dengan bumi.

Selama kita masih memandang telaga sebagai sekadar genangan air dan pohon sebagai sekadar kayu, maka eksploitasi akan terus menghantui kita. Namun, ketika kita menjadikan spiritualitas sebagai napas gerakan, memandang setiap mata air sebagai rahmat dan setiap pohon sebagai doa yang ditanam, maka pelestarian akan berubah menjadi sebuah naluri kebudayaan yang abadi.

Mari kita belajar dari keikhlasan akar pohon di celah-celah karst Gunungkidul. Di sanalah kita menemukan jawaban bahwa kelestarian bukan sekadar soal angka dan target di atas kertas, melainkan soal bagaimana kita memposisikan diri kembali sebagai bagian dari semesta yang suci. Dengan spiritualitas sebagai kompas, kita bisa membalikkan keadaan: dari krisis menuju harmoni, dari gersang menuju mata air kehidupan yang abadi.

*Mudji Ridwan adalah lulusan  Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Surabaya dan Interdisciplinary Islamic Studies UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, juga anggota dari KOTASEJUK (Komunitas Pecinta Sejarah & Ekologi Nganjuk). Ia aktif dalam gerakan literasi & diskusi dan kepengurusan Nahdlatul Ulama di daerahnya. Ia juga co-founder  UMKM F&B Aji Rasa serta founder Serat Sumilir dan JAMU (Jagong Ilmu)*

Lebih baru Lebih lama